Korupsi itu ibarat kanker yang bisa menggerogoti kesehatan seseorang. Pada stadium awal kanker sering tidak begitu tampak bahayanya. Karena penderita masih terlihat kuat dan segar.
Tapi pada stadium lanjut, kanker semakin liar dan ganas. Sehingga penderita penyakit mematikan itu semakin lemah dan kehilangan daya tahan tubuh.
Jika sudah pada kondisi seperti ini, maka si penderita hanya mampu bertahan dalam jangka waktu yang tidak lama, lalu meninggal. Meskipun nyawa di tangan Tuhan namun penderita kanker sangat sedikit yang selamat dan berhasil recovery dari penyakitnya.
Oleh sebab itu salah satu cara agar seseorang selamat dari serangan virus kanker adalah dengan memeriksa diri sejak dini. Tujuannya untuk memastikan apakah penyakit tersebut ada atau tidak. Cara lainnya agar terhindar dari kanker yaitu dengan menjaga kesehatan dan pola hidup sehat.
Langkah preventif (pencegahan) biasanya lebih ampuh daripada pengobatan. Banyak dokter yang menyarankan kepada banyak orang agar senantiasa melakukan pencegahan agar tidak terserang penyakit kanker tersebut.
Katanya jika sudah kena, maka sangat sulit disembuhkan. Dalam banyak kasus penderita kanker hampir 80 persennya menghembuskan nafas terakhir diruang kemo rumah sakit.
Begitulah kira-kira ilustrasi dari analogi betapa bahayanya korupsi yang identik dengan bahayanya kanker. Pada fase awal korupsi sering tidak terdeteksi dan kurang dihiraukan untuk dicegah. Bahkan semacam ada sikap pembiaran.
Istilah yang digunakan dalam melakukan korupsi pun bermacam-macam. Mungkin kita pernah mendengar istilah “apel” Washington, Apel Malang, atau mahar pengantin, atau berbagai kata sandi lainnya yang dipakai untuk menyamarkan perbuatan immoral tersebut.
Bahkan tidak sedikit yang mencoba menghalalkan praktik korupsi tersebut dengan istilah uang terima kasih, uang kopi, uang bensin, dan berbagai sebutan yang kelihatannya sangat baik.
Padahal secara prinsip baik uang kopi, uang bensin, dan uang terima kasih diberikan untuk memuluskan akal bulus atau satu praktik curang.
Lalu bagaimana jika uang tersebut diberikan dengan ikhlas karena seseorang telah banyak membantu? Jika pertanyaannya seperti ini, maka kita harus lihat konteksnya terlebih dahulu.
Katakanlah jika kita umpamakan kasus ini terjadi pada seorang pegawai negeri sipil yang telah membantu warga untuk menyelesaikan selembar surat.
Lalu orang tersebut kemudian memberikan sejumlah uang tanpa diminta dengan nominal tertentu kepada pegawai yang telah melayaninya tadi.
Dan pegawai itupun tidak menolaknya, apakah hal itu tidak boleh? Atau apakah itu juga korupsi? Barangkali jawabannya bisa berbeda antara saya dengan Anda. Tapi mungkin juga sama.
Begitulah saudaraku, terkadang hal kecil yang kita sepelekan justru menjadi embrio “kanker” korupsi yang dapat membesar pada suatu saat.
Mestinya kita mengakui dan perlu berhati-hati, korupsi besar selalu dimulai dengan korupsi kecil yang suskes. Contoh kasus diatas merupakan hal yang saya maksudkan.
Untuk itu kita perlu belajar secara lebih dalam tentang bagaimana mengatasi kanker korupsi agar tidak menyerang generasi bangsa ini.
Anda pasti sepakat dengan saya bahwa mencegah tidak terjadinya korupsi lebih baik dari tindakan pemberantasan. Kenapa? Karena cost penindakan pemberantasan lebih tinggi dari upaya penindakan.
Lalu bagaimana upaya pencegahan itu dilakukan. Pada tulisan saya yang lain pernah saya utarakan tentang gagasan pendidikan anti korupsi sebaiknya diberikan sejak dini bagi adik-adik siswa di sekolah.
Artinya mengenalkan kepada mereka tentang wawasan anti korupsi dengan strategi yang tepat sejak dini, menyesuaikan dengan usia mereka.
Meskipun anak-anak belum paham sama sekali dengan informasi yang mereka terima saat itu. Namun seiring pertambahan usia dan perkembangan kemampuan berpikir mereka akan mengerti.
Selain dibangku sekolah, anak-anak juga perlu diajarkan sikap-sikap yang membangkitkan gambaran mereka tentang perilaku yang menjauhkan mereka dari korupsi. Yaitu mendidik mereka dengan baik dirumah tentang nilai-nilai yang berlawanan dengan mentalitas korupsi.
Keluarga memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan pendidikan dasar bagi setiap generasi. Sekolah pertama setiap manusia adalah keluarganya.
Ibu dan ayah merupakan guru terbaik dari sekolah terbaik pula. Kedua orang tua kitalah yang pertama kali memperkenalkan dunia ini kepada kita.
Bahkan berbagai hasil penelitian dunia kedokteran telah menemukan ternyata janin dalam kandungan pun sudah mulai belajar dari ibu yang mengandungnya.
Dr. Thomas Verni dalam bukunya The Secret Life of the Unborn child, membuktikan bahwa seorang ibu hamil yang sering bernyanyi atau bermain musik, akan melahirkan anak-anak yang juga suka kebiasaan itu. Begitulah hebatnya seorang ibu.
Oleh karena itu tanggung jawab ibu ibu seluruh Indonesia terhadap generasi muda dan masa depan bangsa ini sangat besar. Terutama jika dikaitkan dengan fungsinya sebagai ‘guru’ dalam menyiapkan regenerasi kepemimpinan berikutnya. Kepemimpinan yang kuat, cerdas, dan bebas korupsi.
Untuk mewujudkan visi tersebut sebuah keluarga dapat berkontribusi lebih nyata dalam mendidik anak-anak agar menjadi pelopor anti korupsi dilingkungannya.
Pendidikan anti korupsi dimulai dengan menanamkan nilai-nilai moral yang baik pada setiap anggota keluarga. Seorang anak perlu diajarkan sikap mental jujur dalam dirinya. Karena perilaku korupsi erat kaitannya dengan kejujuran.
Peran keluarga sangat penting dalam menanamkan pendidikan kejujuran dan integritas. Dengan memiliki karakter tersebut kelak saat anak-anak dewasa dan bergaul dalam masyarakat, maka sikap kejujuran yang ia miliki akan dapat menolong dirinya dari ancaman korupsi.
Bahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta pemerintah lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), menggandeng keluarga dan sekolah untuk membumikan pendidikan kejujuran.
Selain membentuk sikap jujur dalam keluarga sebagai pendidikan dasar anti korupsi. Budaya menolong tanpa pamrih pun perlu dikembangkan oleh sebuah komunitas. Karena disinilah berawal membantu orang lain secara tulus ikhlas, tidak mengharapkan balasan, apalagi meminta uang pada orang yang harusnya dilayaninya.
Mungkin frase menolong tanpa pamrih sudah sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam praktiknya, kebanyakan orang saat ini sering mengharapkan balas jasa atas pertolongan yang ia berikan. Dengan alasan sudah menghabiskan waktu, tenaga, dan pikirannya.
Dalam keluarga, para orang tua bisa mulai melatih anak-anaknya untuk menolong anggota keluarga yang lain secara tulus. Misalnya seorang kakak membantu adiknya, anak-anak menolong orang tuanya, tetangga, dan sanak famili yang membutuhkan pertolongan.
Yang tak kalah penting jangan sekali-sekali dilupakan adalah keluarga memberikan pendidikan agama bagi anak-anaknya sebagai basis pendidikan anti korupsi. Dengan mengajarkan ilmu agama, anak-anak akan mengerti bahwa perbuatan tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai ke-Tuhan-an.
Dalam Islam diajarkan bahwa mengambil hak orang lain secara dhalim adalah perbuatan dosa. Mencuri, berbohong, dan tidak amanah merupakan perbuatan yang sangat dilarang dalam agama.
Oleh karena itu jika ingin menanamkan sikap anti korupsi, maka perbaikilah terlebih dahulu sikap mengambil hak orang lain tanpa izin.
Kemudian tanamkan rasa takut atas perbuatan dosa yang mereka lakukan. Bahwa satu saat setiap manusia pasti akan dimintai pertanggungjwaban atas seluruh perbuatannya di dunia.
Meskipun di dunia kita mampu mengelak dari jeratan hukum atas kesalahan yang telah kita perbuat, namun di hari akhir nantinya siapapun tidak dapat menyembunyikan sedikit pun kesalahan yang telah ia perbuat semasa di dunia. Pengadilan Allah Swt sangat adil.
Inilah beberapa hal yang harus menjadi pemikiran bersama bagi orang tua. Mulailah kita menyelamatkan Indonesia dari bahaya korupsi dengan mendidik anak-anak kita dengan pendidikan anti korupsi dalam keluarga.
Sehingga penyakit korupsi yang bagaikan kanker yang dapat mematikan negeri ini, sudah selayaknya menjadi tanggungjawab bersama agar Indonesia tetap sehat, kuat, dan maju dibawah kepemimpinan generasi yang bersih, jujur, dan amanah.
Semua itu bisa dimulai dengan menanamkan pendidikan yang baik dari keluarga.

